Bulan syawal yang sebentar lagi akan tiba kerapkali diidentikan dengan bulan yang penuh dengan moment orang hajatan.
Tidak salah jika kemudian muncul semacam anekdot “habis lebaran, terbitlah kondangan”.
Ya karena ketika tiba musim hajatan, artinya terbit pula musim kondangan atau dalam beberapa kultur masyarakat disebut dengan istilah nyumbang.
Budaya/ tradisi nyumbang sejatinya merupakan tradisi untuk membantu sebuah keluarga yang sedang mengadakan kegiatan hajatan, baik dalam rangka khitanan, perkawinan maupun bentuk perayaan lainnya.
Jika menggunakan istilah kondangan, maka maknanya akan lebih jelas lagi yakni kon dangan yang artinya biar ringan.
Nyumbang mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Ada kalanya orang nyumbang berupa uang dan ada pula yang nyumbang dalam bentuk barang.
Tradisi nyumbang mempunyai kaitan dengan ikatan sosial yang kuat.
Seseorang yang hidup di masyarakat, kebanyakan tidak berani untuk tidak ikut dalam tradisi nyumbang.
Orang yang tidak terlibat dalam tradisi nyumbang dapat dianggap sebagai orang yang antisosial (Mustofa, 2005 : 78).
Ia akan mendapatkan sanksi moral berupa perasaan bersalah dan malu, terlebih jika bertemu dengan orang/ keluarga yang harus disumbang.