Portal Pantura, Magelang – Terletak di antara lereng Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Telomoyo, Desa Citrosono di Kabupaten Magelang menyimpan beragam potensi yang selama ini belum banyak diketahui. Menyadari hal ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 2 Universitas Diponegoro berinisiatif untuk membantu desa tersebut dengan menggagas program “Desa Wisata Unggulan: Membangun Identitas dan Daya Tarik Lokal,” yang bertujuan memperkuat branding dan promosi desa sebagai destinasi wisata.
Program ini dimulai pada 22 Juli 2024 dengan melakukan identifikasi potensi yang ada di Desa Citrosono. Sekretaris Desa Citrosono, Pak Pahluwi, bersama perangkat desa lainnya, menetapkan sektor-sektor unggulan yang mencakup pertanian, perkebunan, mata air, fasilitas desa, hingga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dengan mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani, sektor pertanian dan perkebunan menjadi fokus utama dalam pengembangan desa wisata ini.
Desa Citrosono memiliki kekhasan dalam pertanian, terutama dalam budidaya bunga sedap malam dan kopi robusta. Kopi robusta yang dihasilkan di desa ini telah menjadi salah satu ikon lokal, berkat kondisi geografis yang ideal untuk pertumbuhannya. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Rodin, seorang petani kopi robusta di desa tersebut, iklim dan ketinggian Desa Citrosono sangat mendukung kualitas dan produksi kopi robusta yang dikenal luas sebagai kopi dataran tinggi.
Selain pertanian, Citrosono juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama dalam hal ketersediaan air bersih. Desa ini memiliki Mata Air Tuk Gedad, yang telah dimanfaatkan sebagai sumber air baku oleh PDAM Kabupaten Magelang. Berkat lokasinya yang strategis di kaki pegunungan, Citrosono tidak mengalami masalah kekurangan air seperti yang sering dialami desa-desa lain di sekitarnya.
Keindahan alam Citrosono juga menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu aset alam yang menarik adalah Telagasari, sebuah telaga dengan air jernih berwarna kebiruan yang dikelilingi oleh hamparan sawah dan pepohonan hijau. Telagasari berpotensi menjadi destinasi wisata yang dapat menarik pengunjung dengan pesona keindahannya yang masih alami.
Selain keindahan alam, Desa Citrosono juga kaya akan budaya dan kerajinan lokal. Desa ini memiliki UMKM batik tulis yang aktif difasilitasi oleh pemerintah desa. Ibu Sumiyati, salah satu pelopor produksi batik tulis di desa ini, mengungkapkan bahwa kegemarannya dalam membuat batik sudah berlangsung lebih dari 10 tahun, dan hingga kini usahanya terus berkembang. Batik tulis dan batik cap dari Citrosono sudah mulai dikenal luas melalui berbagai pameran yang diikuti.
Di samping itu, desa ini juga memiliki berbagai UMKM lain yang menghasilkan produk-produk lokal seperti kerajinan centong, anyaman plastik, industri triplek rumahan, industri roti, hingga onde-onde ketawa. Produk-produk ini mencerminkan kreativitas dan kemandirian warga Citrosono dalam mengembangkan usaha ekonomi lokal.
Mahasiswa KKN Tim 2 Universitas Diponegoro juga berperan dalam mempromosikan potensi-potensi ini melalui pembuatan konten video yang diunggah di platform digital seperti YouTube, Instagram, dan situs web desa. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas Citrosono di dunia maya, serta menarik lebih banyak wisatawan dan investor untuk datang ke desa ini.
Lebih dari sekadar promosi, program ini juga berupaya mendorong partisipasi aktif pemuda desa dalam mengelola dan melanjutkan kegiatan promosi ini secara mandiri. Dengan demikian, Citrosono tidak hanya akan dikenal sebagai desa wisata yang kaya akan potensi alam dan budaya, tetapi juga sebagai desa yang siap menghadapi era digital dengan strategi branding yang kuat dan terarah.***
***Pengirim: Eka Raisha Putri Bintari, mahasiswi KKN Universitas Diponegoro yang sedang melaksanakan KKN di Desa Citrosono, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.