Tersangka Pelaku Mutilasi di Tegal Pendiam dan Suka Menyendiri

Selain pendiam tersangka pelaku mutilasi juga dikenal sebagai sosok suka menyendiri dan jarang bergaul

PORTAL PANTURA – Lelaki berjangut dan berambut ikal dengan ciri-ciri tinggi -+ 160cm, perawakan kurus membawa tas ransel nampak berjalan gugup di area persawahan suradadi kearah timur nampak usai menyaksikan kerumunan warga yang sibuk dihebohkan penemuan mayat termutilasi.

Bahkan tingkah sosok lelaki tak dikenal warga ini menjadi perhatian beberapa warga, pasalnya saat hendak didekati, pria ini terus berjalan seperti orang ketakutan dan gerak geriknya mencurigakan.

Benar saja, kecurigaan warga terbukti setelah pihak Polres Tegal yang melakukan Olah Kejadian Perkara mendapatkan informasi bila pada tanggal kejadian yakni 8 Maret 2022 pria tersebut berada di area persawahan Desa Warureja, Kabupaten Tegal.

Seketika itu juga, pihak Polres Tegal langsung mengamankan orang tidak dikenal itu dengan melakukan penggeledahan dan alhasil dari pengeledahan tersebut ditemukan sebuah tas ransel yang berisi sebuah cutter yang masih ternoda darah serta pakaian.

Bahkan bukan dari barang-barang tersebut, selain pisau masih terdapat bekas darah, ternyata dalam pemeriksaan di kuku pria tak dikenal tersebut masih membekas bercak darah korban yang setelah dicocokan melalui test DNA merupakan bekas darah korban termutilasi yang ditemukan oleh warga di area pesawahan.

Dalam Konferensi Pers yang digelar Selasa 22 Maret 2022 dihalaman Mapolres Tegal oleh Kapolres Tegal, AKBP Arie Prasetya Syafa’at didampingi Wakapolres dan Kasatreskrim Polres Tegal membenarkan bahwa hasil test DNA yang dilakukan benar milik korban yakni bergolongan darah O.

Kapolres Tegal, AKBP Arie Prasetya Syafaát mengungkapkan, kejadian tersebut berawal dari adanya laporan masyarakat ke Polsek Suradadi Polres Tegal tentang penemuan mayat oleh suami korban diarea persawahan beberapa waktu lalu.

“Korban bermula dari berangkat kerja seperti rutinitas kesehariannya menuju kesawah, namun setelah ditunggu oleh suami korban pada saat hari itu hingga pukul 15.00 Wib si istri tidak pulang kerumah sehingga suami berinisiatif mencari korban,” ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Kapolres Tegal dalam perjalanan menuju ke area persawahan suami korban menemukan topi dan tas plastik milik korban didekat pepohonan serta tidak jauh dari situ ditemukan korban atau istrinya dalam keadaan meninggal dunia dengan luka irisan dileher, payudara dan kemaluan yang terpotong atau termutilasi.

Kemudian, pada (3/3/2022) petugas dari kepolisian Polres Tegal melakukan olah TKP berkoirdinasi dengan Polres Tegal Kota untuk menerjunkan anjing pelacak untuk membantu mencari bagian tubuh korban yang hilang.

Meskipun cuaca tidak menguntungkan karena kondisi hujan, pelaksanaan tetap dilakukan dan alhasil tim anjing pelacak dapat menemukan beberapa petunjuk dan dikolaborasi dengan informasi dari saksi-saksi, selanjutnya dikembangkan melalui proses penyelidikan.

“Kami juga terus mendalami hasil pemeriksaan Labfor tersebut, dan kemudian melakukan uji DNA terhadap kecocokan itu yang dikirimkan ke Pusat laboratorium Forensik Polri, hasilnya menyatakan bahwa darah yang ada didalam kuku dan pisau tersebut cocok atau identik dengan darah korban mutilasi,” jelasnya.

Kapolres juga menjelaskan, bahwa tersangka sejak tanggal (8/3/2022) hingga sekarang (22/3/2022) tidak mau bicara dan rencananya pihaknya berupaya uji pendalaman atau observasi kejiwaan atau Psikologis melalui bagian Psikologi Ro SDM Polda Jawa Tengah.

“Jadi pembuktian ini semua melalui pembuktian secara ilmiah atau Scientific Crime Investigation dengan tentunya didukung alat bukti lainnya sesuai ketentuan pasal 184 Kuhap dan bukan mengejar pengakuan dari keterangan tersangka,”terang Kapolres Tegal

Dari hasil pemeriksaan tersangka Akhadirun (44) warga kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara merupakan orang pendiam dan suka menyendiri, sehingga untuk pengembangan kasus dibutuhkan proses kejiwaan dengan melakukan observasi terhadap tersangka, pasalnya sampai saat ini tersangka belum mau memberikan keterangan.

Sementara, Kasatreskrim Polres Tegal, AKP I Dewa Gede Ditya mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan dan adanya bukti permulaan yang cukup kemudian melakukan gelar perkara, pihaknya dan tim penyidik menyepakati untuk menaikkan ke tahap penyidikan sebagai upaya Pro Justitia.

“Sejauh ini kami masih mendalami motifnya yang akhirnya kami menerapkan pasal 338 KUHP yakni tentang pembunuhan. Setelah nanti kami mendapatkan motif, apakah sebelumnya perbuatan ini telah direncakan terlebih dahulu maka kami akan melakukan gelar perkara Kembali untuk penambahan sangkaan Pasal” terangnya.

Atas perbuatannya, tersangka kini nama Akhadirun disangkakan dengan pasal 338 KUHP dengan ancaman yakni hukuman penjara selama 15 tahun.”**

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status